Senin, 04 Juni 2012

cerpen

Cerpen
KEMBALI PULANG

Pergi bukan berarti hilang, bila percaya maka ia akan kembali pulang dengan jalannya sendiri. Seperti halnya cinta, jika saat ini ia pergi maka suatu hari nanti akan kembali pulang dengan jalan yang berbeda dan jiwa yang berbeda pula.
Malam itu hujan turun dengan lebatnya. Angin kencang disertai petir menyambar-nyambar, menambah suasana malam itu menjadi semakin tidak bersahabat. Ditambah dengan posisiku yang berada di depan gedung rumah sakit tak beratap ini. Tiupan angin membawa butir-butir air hujan ke tubuhku. Mulutkupun berkomat-kamit mengeluh. Tiba-tiba sebuah payung menaungi kepalaku.
“Dokter Rendi!” Aku tersentak dengan kehadiran si pembawa payung itu.
“Mau pulang bareng?” jawabnya memecah keterkejutanku.
“Oh… Iya.”
Ia mengantarkanku pulang ke asrama dokter bantuan. Dokter Rendi yang selama ini aku anggap sebagai dokter pendiam, aneh dan tak suka bergaul ternyata sangat baik hati.
“Mau mampir sebentar?” tanyaku sambil membuka pagar asrama.
“Maaf, saat ini aku tidak bisa, mungkin lain kali.” Jawabnya dengan lembut agar aku tak sakit hati dengan penolakannya.
“Oke enggak apa-apa. Makasih sudah mau mengantarkanku pulang, Dok!”
Ia hanya menganggukkan kepalanya dan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Memang terlihat sedikit aneh tapi aku senang bisa berbicara dengannya walau itu hanya sebentar. Mungkin lain kali aku  bisa berbicara banyak bersamanya.
***
Pagi ini aku bersama beberapa dokter bantuan lain dan dokter setempat akan melakukan penyuluhan kesehatan dibeberapa daerah terpencil. Aku kaget melihat dokter Rendi ada di mobil yang sama denganku. ‘Orang pendiam seperti dia akan memberikan penyuluhan?’ tak pernah kubayangkan bagaimana kejadiannya. Pemikiranku itu terjawab dengan seketika, dalam memberikan penyuluhan dokter Rendilah yang terbaik melakukannya, semua orang mengerti dan memahami setiap perkataannya, benar-benar hebat. Dokter yang kuanggap pendiam ternyata ahli melakukan penyuluhan dibandingkan dengan dokter yang banyak bicara di rumah sakit.
Setelah pemberian penyuluhan selesai, tiba-tiba terdengar kabar bahwa telah terjadi sebuah kecelakaan di sekitar tempat penyuluhan. Semua anggota penyuluhan pergi kesana untuk memberi pertolongan namun berbeda dengan dokter Rendi. Ia duduk dengan wajah ketakutan dan tangan terkepal yang bergetar.
“Ada apa Dok?” Tanyaku mendekatinya. Tiba-tiba ia memegang tanganku
“Pasti tidak apa-apa kan?” pertanyaannya membuatku bingung.
“Iya, tidak akan apa-apa.” Jawabku walau aku tidak tau apa yang dibicarakannya.
Setelah aku bicara seperti itu tiba-tiba dokter Rendi jatuh pingsan. Ada apa sebenarnya. ‘Mengapa dokter Rendi bisa ketakutan dan pingsan seperti itu?’.
***
Suasana rumah sakit pagi ini menjadi sedikit heboh mengenai kejadian di tempat penyuluhan kemarin. karena semua dokter bantuan menjadikan dokter Rendi sebagai topik utamanya. Aku yang penasaran pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada dokter Rendi. Namun, ia tidak menggubrisku. Karena tidak mendapatkan jawabannya,aku bertanya pada dokter Lidya yang katanya pernah dekat dengannya.
Pada awalnya dokter Lidya tidak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. Karena aku terus memaksanya dia pun menceritakan semua hal tentang dokter Rendi. Termasuk mengapa ia ketakutan dan jatuh pingsan saat itu. Kata dokter Lidya hal ini tidak terjadi sekali itu saja. Namun, telah terjadi beberapa kali. Keadaan trauma terhadap kecelakaan yang pernah ia alami bersama seorang wanita yang kemudian meninggal saat itu juga adalah tunangannya. Mendengar hal ini, aku baru mengerti mengapa ia bersikap seperti orang yang penyendiri dan pendiam.
Mengetahui keadaan dokter Rendi yang seperti itu, aku ingin membuatnya bisa seperti dulu. Seorang dokter yang ceria dan baik hati pada siapa saja, sama persis seperti yang dikatakan dokter Lidya barusan padaku.
Otakku terus mencari cara bagaimana agar dokter Rendi bisa menghadapi traumanya. Mungkin dengan sering menyebutkan kata-kata kecelakaan dia akan sedikit kebal dan tidak pingsan lagi. Ternyata dugaanku salah besar, setiap aku katakan “kecelakaan” maka dia akan pingsan. Sampai-sampai bertemu denganku pun dia tidak mau.
 Dengan berbagai cara aku mencoba membuatnya sedikit ceria dan tersenyum, mulai dari memberikan buku-buku lelucon, mengagetkannya dengan beberapa penampilan yang menurutku lucu, dan selalu bercerita hal-hal yang menyenangkan padanya. Tapi, semua yang kulakukan tidak membuatnya ceria, sedikit saja dia tidak tersenyum. Rasanya sudah menemui jalan buntu.
Malam ini hujan kembali turun dengan derasnya, aku teringat pertama kali aku bisa berbicara dengan dokter Rendi. Aku berharap bisa seperti malam hujan yang lalu. Tiba-tiba dokter Rendi ada di sampingku sedang membuka payung yang ia bawa. Namun, ia pergi tanpa memperdulikanku. Dengan nekat aku berlari mendekatinya. Hal hasil dia berbagi payung denganku.
“Ada apa? Mengapa nekat menyusulku?”
“Tidak ada apa-apa. Semua ini kulakukan karena aku suka dokter!”
“Su…suka?” tanyanya dengan kaget mendengarku berkata seperti itu.
“Iya. Aku suka berada di bawah payung yang sama, aku juga suka saat dokter menjauhiku, dan aku juga suka saat dokter tidak tersenyum padaku. Rasanya seperti sebuah tantangan.” Jawabku memancingnya untuk berbicara
“Mengapa suka padaku? Padahal aku menjauhimu, karena aku tidak begitu suka padamu.” Jawabnya dengan sedikit tersendat-sendat
“Dokter menjauhiku bukan karena tidak suka padaku, tapi karena takut akan suka padaku, iya kan?” jawabku menantangnya.
Mendengar perkataanku ia menjadi diam. Dan selama diperjalanan sampai ke depan pagar asramaku ia tidak berkata-kata lagi.
“Dok!” suaraku menghentikan langkahnya yang pergi menjauhi asrama
“Apa?” jawabnya menoleh. Akupun mendekatinya
“Besok adalah hari terakhirku bekerja menjadi dokter bantuan di sini, tapi masih ada satu hal yang belum aku kerjakan. Selama ini, setiap hal yang aku kerjakan membuat dokter merasa terganggu. Mungkin kali ini juga sama, tapi maukah dokter melakukannya untukku?”
“Melakukan apa?” tanyanya
“Bisakah dokter mengantar kepergianku di rumah sakit dengan keadaan sedikit ceria dan tersenyum?” pintaku padanya
“Besok aku libur, jadi tidak bisa kulakukan.” Jawabnya dengan dingin dan berpaling, melangkah pergi meninggalkanku di depan pagar asrama dengan gerimis sedikit deras.
***
Pagi ini semua dokter bantuan membereskan barang-barangnya di rumah sakit. Begitu juga denganku. Saat membawa barang-barang ke parkiran, beberapa dokter yang telah akrab mengantar kepergianku termasuk dokter Lidya. Saat mengikat barang di motor, semua suara “Selamat jalan, hati-hati” menjadi sunyi. Perkataan yang kudengar hanya
“Rani, aku akan melakukannya untukmu!”
Ternyata suara dokter Rendi yang begitu membuatku terkejut begitu juga dengan dokter-dokter di sana. Setelah berkata seperti itu, ia tersenyum padaku dengan mengucapkan salam perpisahan. Aku pun berlari mendekatinya. Berjabat tangan dan memintanya melakukan satu hal lagi untukku hari ini.
“Dok, boleh minta bantuan sekali lagi?”
“Apa?” jawabnya dengan tersenyum
“Bisakah dokter mengantarkanku ke asrama?” pintaku padanya
“Dengan naik motor?” tanyanya
“Iya.” Jawabku.
Dokter Rendi terdiam dan senyuman di wajahnyapun menghilang. Lagi-lagi ia pergi tanpa memperdulikanku. ‘Apa dia masih trauma dengan kecelakaan itu? Makanya selama ini ia tidak mau naik kendaraan. Entahlah, yang pasti saat ini aku harus segera pergi ke asrama mengambil barang-barang lainnya.’
Saat diperjalanan entah apa yang aku pikirkan. Sampai-sampai aku kurang konsentrasi mengendarai motorku. Karena itu, kecelakaan pun terjadi. Aku menghindari orang yang menyebrang tapi tak bisa mengelak lagi dari pohon di tepi jalan itu. sadar-sadar aku sudah berada di asrama.
“Ternyata dokter juga bisa sakit!”
“Dokter Rendi!” terkejut aku melihatnya masuk ke kamarku dengan segelas air putih di tangannya.
“Ini, obatnya diminum dulu, baru bicara.”
“Kok bisa?” kataku setelah meminum habis obat yang diberikannya
“Tadi, orang yang hampir kamu tabrak menelpon ke nomorku.” Jawabnya
“Jadi, dokter yang membawaku ke asrama?” tanyaku penasaran
“Bukan aku, tapi ambulance rumah sakit.”
“Lalu motorku bagaimana?”
“Tentu saja aku yang membawanya.”
“Maafkan aku Dok. Sudah membuatmu susah.”
“Memang sangat membuat orang susah. Tapi aku harus mengatakannya juga. Terima kasih untuk semua yang kamu lakukan untukku selama ini.” Jawabnya membuat perasaanku menjadi berdebar.
“Jadi, dokter suka dengan yang kulakukan selama ini?” tanyaku ingin tahu.
“Tentu. Jika sudah merasa baikan. Segera bawa barang-barangmu ke depan. Aku akan mengantarmu pulang sampai ke rumahmu.”
“Dengan mengendarai motorku?”
“Tidak bisa, karena motormu sedang dibengkel.”
“Jadi, kita naik apa? Apa harus jalan kaki?”
“Ha…ha…ha… kenapa harus jalan kaki! Lalu bagaimana dengan mobilku di depan?” jawabnya
Semenjak itu, aku seperti melihat dirinya telah kembali, walau aku tidak tahu dulunya dia orang seperti apa. Yang jelas, ceria dan selalu tersenyum lebih baik dari dirinya yang aku kenal kemarin.


*******
SELESAI