Cerpen
KEMBALI
PULANG
Pergi
bukan berarti hilang, bila percaya maka ia akan kembali pulang dengan jalannya
sendiri. Seperti halnya cinta, jika saat ini ia pergi maka suatu hari nanti
akan kembali pulang dengan jalan yang berbeda dan jiwa yang berbeda pula.
Malam
itu hujan turun dengan lebatnya. Angin kencang disertai petir
menyambar-nyambar, menambah suasana malam itu menjadi semakin tidak bersahabat.
Ditambah dengan posisiku yang berada di depan gedung rumah sakit tak beratap
ini. Tiupan angin membawa butir-butir air hujan ke tubuhku. Mulutkupun
berkomat-kamit mengeluh. Tiba-tiba sebuah payung menaungi kepalaku.
“Dokter
Rendi!” Aku tersentak dengan kehadiran si pembawa payung itu.
“Mau
pulang bareng?” jawabnya memecah keterkejutanku.
“Oh…
Iya.”
Ia
mengantarkanku pulang ke asrama dokter bantuan. Dokter Rendi yang selama ini
aku anggap sebagai dokter pendiam, aneh dan tak suka bergaul ternyata sangat
baik hati.
“Mau
mampir sebentar?” tanyaku sambil membuka pagar asrama.
“Maaf,
saat ini aku tidak bisa, mungkin lain kali.” Jawabnya dengan lembut agar aku
tak sakit hati dengan penolakannya.
“Oke
enggak apa-apa. Makasih sudah mau mengantarkanku pulang, Dok!”
Ia
hanya menganggukkan kepalanya dan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Memang terlihat sedikit aneh tapi aku senang bisa berbicara dengannya walau itu
hanya sebentar. Mungkin lain kali aku
bisa berbicara banyak bersamanya.
***
Pagi
ini aku bersama beberapa dokter bantuan lain dan dokter setempat akan melakukan
penyuluhan kesehatan dibeberapa daerah terpencil. Aku kaget melihat dokter
Rendi ada di mobil yang sama denganku. ‘Orang pendiam seperti dia akan
memberikan penyuluhan?’ tak pernah kubayangkan bagaimana kejadiannya.
Pemikiranku itu terjawab dengan seketika, dalam memberikan penyuluhan dokter Rendilah
yang terbaik melakukannya, semua orang mengerti dan memahami setiap
perkataannya, benar-benar hebat. Dokter yang kuanggap pendiam ternyata ahli
melakukan penyuluhan dibandingkan dengan dokter yang banyak bicara di rumah
sakit.
Setelah
pemberian penyuluhan selesai, tiba-tiba terdengar kabar bahwa telah terjadi
sebuah kecelakaan di sekitar tempat penyuluhan. Semua anggota penyuluhan pergi
kesana untuk memberi pertolongan namun berbeda dengan dokter Rendi. Ia duduk
dengan wajah ketakutan dan tangan terkepal yang bergetar.
“Ada apa Dok?” Tanyaku
mendekatinya. Tiba-tiba ia memegang tanganku
“Pasti
tidak apa-apa kan?”
pertanyaannya membuatku bingung.
“Iya,
tidak akan apa-apa.” Jawabku walau aku tidak tau apa yang dibicarakannya.
Setelah
aku bicara seperti itu tiba-tiba dokter Rendi jatuh pingsan. Ada apa sebenarnya. ‘Mengapa dokter Rendi
bisa ketakutan dan pingsan seperti itu?’.
***
Suasana
rumah sakit pagi ini menjadi sedikit heboh mengenai kejadian di tempat
penyuluhan kemarin. karena semua dokter bantuan menjadikan dokter Rendi sebagai
topik utamanya. Aku yang penasaran pun akhirnya memberanikan diri untuk
bertanya pada dokter Rendi. Namun, ia tidak menggubrisku. Karena tidak
mendapatkan jawabannya,aku bertanya pada dokter Lidya yang katanya pernah dekat
dengannya.
Pada
awalnya dokter Lidya tidak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. Karena
aku terus memaksanya dia pun menceritakan semua hal tentang dokter Rendi.
Termasuk mengapa ia ketakutan dan jatuh pingsan saat itu. Kata dokter Lidya hal
ini tidak terjadi sekali itu saja. Namun, telah terjadi beberapa kali. Keadaan
trauma terhadap kecelakaan yang pernah ia alami bersama seorang wanita yang
kemudian meninggal saat itu juga adalah tunangannya. Mendengar hal ini, aku
baru mengerti mengapa ia bersikap seperti orang yang penyendiri dan pendiam.
Mengetahui
keadaan dokter Rendi yang seperti itu, aku ingin membuatnya bisa seperti dulu.
Seorang dokter yang ceria dan baik hati pada siapa saja, sama persis seperti
yang dikatakan dokter Lidya barusan padaku.
Otakku
terus mencari cara bagaimana agar dokter Rendi bisa menghadapi traumanya.
Mungkin dengan sering menyebutkan kata-kata kecelakaan dia akan sedikit kebal
dan tidak pingsan lagi. Ternyata dugaanku salah besar, setiap aku katakan
“kecelakaan” maka dia akan pingsan. Sampai-sampai bertemu denganku pun dia
tidak mau.
Dengan berbagai cara aku mencoba membuatnya
sedikit ceria dan tersenyum, mulai dari memberikan buku-buku lelucon,
mengagetkannya dengan beberapa penampilan yang menurutku lucu, dan selalu bercerita
hal-hal yang menyenangkan padanya. Tapi, semua yang kulakukan tidak membuatnya
ceria, sedikit saja dia tidak tersenyum. Rasanya sudah menemui jalan buntu.
Malam
ini hujan kembali turun dengan derasnya, aku teringat pertama kali aku bisa
berbicara dengan dokter Rendi. Aku berharap bisa seperti malam hujan yang lalu.
Tiba-tiba dokter Rendi ada di sampingku sedang membuka payung yang ia bawa.
Namun, ia pergi tanpa memperdulikanku. Dengan nekat aku berlari mendekatinya.
Hal hasil dia berbagi payung denganku.
“Ada apa? Mengapa nekat
menyusulku?”
“Tidak
ada apa-apa. Semua ini kulakukan karena aku suka dokter!”
“Su…suka?”
tanyanya dengan kaget mendengarku berkata seperti itu.
“Iya.
Aku suka berada di bawah payung yang sama, aku juga suka saat dokter menjauhiku,
dan aku juga suka saat dokter tidak tersenyum padaku. Rasanya seperti sebuah
tantangan.” Jawabku memancingnya untuk berbicara
“Mengapa
suka padaku? Padahal aku menjauhimu, karena aku tidak begitu suka padamu.”
Jawabnya dengan sedikit tersendat-sendat
“Dokter
menjauhiku bukan karena tidak suka padaku, tapi karena takut akan suka padaku,
iya kan?”
jawabku menantangnya.
Mendengar
perkataanku ia menjadi diam. Dan selama diperjalanan sampai ke depan pagar
asramaku ia tidak berkata-kata lagi.
“Dok!”
suaraku menghentikan langkahnya yang pergi menjauhi asrama
“Apa?”
jawabnya menoleh. Akupun mendekatinya
“Besok
adalah hari terakhirku bekerja menjadi dokter bantuan di sini, tapi masih ada
satu hal yang belum aku kerjakan. Selama ini, setiap hal yang aku kerjakan membuat
dokter merasa terganggu. Mungkin kali ini juga sama, tapi maukah dokter
melakukannya untukku?”
“Melakukan
apa?” tanyanya
“Bisakah
dokter mengantar kepergianku di rumah sakit dengan keadaan sedikit ceria dan
tersenyum?” pintaku padanya
“Besok
aku libur, jadi tidak bisa kulakukan.” Jawabnya dengan dingin dan berpaling,
melangkah pergi meninggalkanku di depan pagar asrama dengan gerimis sedikit
deras.
***
Pagi
ini semua dokter bantuan membereskan barang-barangnya di rumah sakit. Begitu
juga denganku. Saat membawa barang-barang ke parkiran, beberapa dokter yang
telah akrab mengantar kepergianku termasuk dokter Lidya. Saat mengikat barang
di motor, semua suara “Selamat jalan, hati-hati” menjadi sunyi. Perkataan yang
kudengar hanya
“Rani,
aku akan melakukannya untukmu!”
Ternyata
suara dokter Rendi yang begitu membuatku terkejut begitu juga dengan
dokter-dokter di sana.
Setelah berkata seperti itu, ia tersenyum padaku dengan mengucapkan salam
perpisahan. Aku pun berlari mendekatinya. Berjabat tangan dan memintanya
melakukan satu hal lagi untukku hari ini.
“Dok,
boleh minta bantuan sekali lagi?”
“Apa?”
jawabnya dengan tersenyum
“Bisakah
dokter mengantarkanku ke asrama?” pintaku padanya
“Dengan
naik motor?” tanyanya
“Iya.”
Jawabku.
Dokter
Rendi terdiam dan senyuman di wajahnyapun menghilang. Lagi-lagi ia pergi tanpa
memperdulikanku. ‘Apa dia masih trauma dengan kecelakaan itu? Makanya selama
ini ia tidak mau naik kendaraan. Entahlah, yang pasti saat ini aku harus segera
pergi ke asrama mengambil barang-barang lainnya.’
Saat
diperjalanan entah apa yang aku pikirkan. Sampai-sampai aku kurang konsentrasi
mengendarai motorku. Karena itu, kecelakaan pun terjadi. Aku menghindari orang
yang menyebrang tapi tak bisa mengelak lagi dari pohon di tepi jalan itu.
sadar-sadar aku sudah berada di asrama.
“Ternyata
dokter juga bisa sakit!”
“Dokter
Rendi!” terkejut aku melihatnya masuk ke kamarku dengan segelas air putih di
tangannya.
“Ini,
obatnya diminum dulu, baru bicara.”
“Kok
bisa?” kataku setelah meminum habis obat yang diberikannya
“Tadi,
orang yang hampir kamu tabrak menelpon ke nomorku.” Jawabnya
“Jadi,
dokter yang membawaku ke asrama?” tanyaku penasaran
“Bukan
aku, tapi ambulance rumah sakit.”
“Lalu
motorku bagaimana?”
“Tentu
saja aku yang membawanya.”
“Maafkan
aku Dok. Sudah membuatmu susah.”
“Memang
sangat membuat orang susah. Tapi aku harus mengatakannya juga. Terima kasih
untuk semua yang kamu lakukan untukku selama ini.” Jawabnya membuat perasaanku
menjadi berdebar.
“Jadi,
dokter suka dengan yang kulakukan selama ini?” tanyaku ingin tahu.
“Tentu.
Jika sudah merasa baikan. Segera bawa barang-barangmu ke depan. Aku akan
mengantarmu pulang sampai ke rumahmu.”
“Dengan
mengendarai motorku?”
“Tidak
bisa, karena motormu sedang dibengkel.”
“Jadi,
kita naik apa? Apa harus jalan kaki?”
“Ha…ha…ha…
kenapa harus jalan kaki! Lalu bagaimana dengan mobilku di depan?” jawabnya
Semenjak
itu, aku seperti melihat dirinya telah kembali, walau aku tidak tahu dulunya
dia orang seperti apa. Yang jelas, ceria dan selalu tersenyum lebih baik dari
dirinya yang aku kenal kemarin.
*******
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar